Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 14 April 2013








“Antarkan aku pada Nya di…”
“huhh…Hufftt..!!!” Suara lega keluar dari bibirku,nafas ngos-ngosan di tambah peluh yang keluar dari pelipis tak ada kami hiraukan.Aku lihat beberapa orang yang mengejar kami tadi,telak dari pandangan. “Gak ada lagi di..”sambil aku memegang dada yang sesak sekali,seakan butuh oksigen yang lebih dari biasanya. Aku lihat sahabatku lunglai,terpejam sambil memegang tas hasil curian kami. Aku duduk disampingnya,ku pejamkan mata ku.
 “Aku tobat Mar..” ,ucap diah sobatku itu.Aku tersenyum. Ku biarkan dia melontarkan kata semaunya. Toh aku juga tak akan tergoda.
“seberapa dosa kita maria?” . dia lanjutkan pertanyaan bodohnya ,aku sendiri tak tau alat apa yang bisa mengukur dosa kami.
“Sudahlah…ayo kita pulang!” aku tarik lengan yang selama ini menemani ku menjalani profesi yang sudah setaun belakangan ini.
 “Tapi mar…”jawabnya, Seakan ia enggan mengikutiku. Aku lepas,dan aku berjalan gontai,ku biarkan dia masih terduduk.
“kreeeekkk….”derit pintu usang yang terbuat dari papan bekas hamper terjatuh. Kulihat isi rumah kami,ada dua bantal buluk tergeletak di sudut ruangan,Koran-koran bekas berserakan di setiap sudut,bungkus nasi yang tadi pagi belum kami buang,sebenarnya lebih tepat jika rumah ini disebut gubuk. Ya…Gubuk,”gubuk derita” seperti lagu dangdut yang entah siapa penciptanya. Gubuk yang telah memaksa ku berlari mengejar nyawa,Gubuk yang telah mengajariku arti “DUIT”, Gubuk yang telah menempa ku menjadi makhluk paling keji di dunia. Tapi, dengan gubuk inilah aku mengerti artinya Hidup,nafas, bahkan kebencian terhadap kekayaan.
“Maria… ini sudah satu tahun kita lewati,tak ingin kah kau berubah” Suara yang tak asing lagi.
“Cukup Di…!! Itu konyol,kita ini jahat..dan selamanya kita jahat”
“Tuhan Maha Pengampun mar…”
“CUKUP!!” aku membentaknya. Suara ku parau. Aku terduduk,kulihat Diah menyeka air dari pelupuk matanya.

“Di… waktu,dan keadaan yang memaksa ku. Tak taukah kau, keinginanku mencari duit halal yang akhirnya menumbuhkan dendam pada ‘Beliau’…”aku sebut beliau untuk orang kaya yang angkuh bahkan telah mencoreng ku dengan air dari mulut hinanya.

“Aku dendam pada kemiskinan di… aku dendam dengan mereka yang telah membuat ku begini, Aku dendam dengan orang kaya yang telah meludahiku, tanpa mereka menyadari ludah mereka begitu hina,,menjijikkan di…Aku DENDAMMM!!!”air mata yang telah lama kusimpan kini mengucur deras menjebol bendungan mata ku.Diah terduduk, seperti tanpa komando ia pun menangis disampingku.

“Maria…ada Tuhan yang selalu ada buat kita..bahkan Dialah yang telah memberi rezeki untuk kita…Ayolah Maria,kita benahi diri ini” Diah mengulurkan sebuah kain yang baru kutau itulah jilbab.Aku menggenggamnya dan pergi berlalu dari hadapannya.
Aku kembali,masih kulihat Diah terduduk di tempatnya. Kulihat dia begitu letih, Tapi masa bodoh aku juga tak bisa menopang tubuh letihnya,bahkan menopang diri  ini pun serasa tak sanggup. Kuhamparkan sebuah Koran usang dan ku letakkan sejenak badan ini. Langit-langit gubuk ini seakan tertawa melihat ku, mencemooh seperti babi-babi hutan yang sering ku temui di tiap gedung mewah.
“Di…”ku panggil dia tanpa melepas pandangan ku pada langit-langit yang bercengkerama dengan ku.
“Tuhan dimana Di…?”aku lanjutkan pertanyaanku.

“Allah itu disini..”Diah menunjuk pada hatinya. Aku mengernyitkan dahi ku. Seakan tau kebingunganku, ia pun melanjutkan jawabannya.

“ALLAH itulah yang menciptakan kita mar..Allah lah yang telah menciptakan semuanya mar..dan Allah lah yang mengkomando kita Mar..Allah itu maha melihat Mar,dimanapun kamu berada pasti Dia melihat..”jawabnya panjang lebar.
“dari mana kau tau Di..?”aku heran dari mana ia dapatkan kata-kata itu.
“Selama ini aku selalu mengikuti perkumpulan muslim yang membenahi akhlak mar..”jawabnya lagi sambil mengikat rambut nya yang lumayan gimbal.
“Apakah Allah itu Maha menolong hambaNya?”Tanya ku lagi.

“Tepat mar..salah satu sifatNya juga Maha menolong”ia menjentikkan jarinya kehadapanku.
“Kamu bohong Di…”jawabku singkat. Tapi kini ia mengernyitkan dahinya.
“Ya..kamu bohong pada ku Di..kalau memang Allah itu Maha melihat dan menolong hambaNya, buktinya Dia telah membiarkan Ibu ku di perkosa dan di bunuh oleh para ‘beliau’ rekan bisnis ayah ku.. Dia juga telah membiarkan anak-anak terlantar, dan kemiskinan merajalela, sedangkan penguasanya orang-orang jahat…Dia juga telah membiarkan aku seperti ini..”ucap ku panjang lebar. Sedangkan Diah hanya melongo mungkin tak menyangka aku bakl berucap demikian.
“kalau memang Maha melihat dan menolong seharusnya Dia menumpas semua orang jahat …seperti superman,atau spiderman”jawabku menambahkan.
“Berarti Dia juga menumpas kita Mar…?”kini diah yang balik Tanya.
“ahh kamuu…kita memang jahat,tapi terpaksa…hahahah”Aku bangun dan menepuknya. Ku pakai jilbab yang Diah beri tadi pada ku.
“Cantik tidak…?”aku bertanya padanya. Dia mengangguk..dan kami pun tertawa bareng.
“Eitttsss… jangan lupa,ajak aku pada ustadzah mu itu…” aku tersnyum manis padanya,senyuman manis yang belum aku berikan pada siapa pun..
“Ya Allah Tuhan ku,, Aku datang pada Mu.”

Cafe Painting