“Antarkan
aku pada Nya di…”
“huhh…Hufftt..!!!”
Suara lega keluar dari bibirku,nafas ngos-ngosan di tambah peluh yang keluar
dari pelipis tak ada kami hiraukan.Aku lihat beberapa orang yang mengejar kami
tadi,telak dari pandangan. “Gak ada lagi di..”sambil aku memegang dada yang
sesak sekali,seakan butuh oksigen yang lebih dari biasanya. Aku lihat sahabatku
lunglai,terpejam sambil memegang tas hasil curian kami. Aku duduk
disampingnya,ku pejamkan mata ku.
“Aku tobat Mar..” ,ucap diah sobatku itu.Aku
tersenyum. Ku biarkan dia melontarkan kata semaunya. Toh aku juga tak akan
tergoda.
“seberapa
dosa kita maria?” . dia lanjutkan pertanyaan bodohnya ,aku sendiri tak tau alat
apa yang bisa mengukur dosa kami.
“Sudahlah…ayo
kita pulang!” aku tarik lengan yang selama ini menemani ku menjalani profesi
yang sudah setaun belakangan ini.
“Tapi mar…”jawabnya, Seakan ia enggan
mengikutiku. Aku lepas,dan aku berjalan gontai,ku biarkan dia masih terduduk.
“kreeeekkk….”derit
pintu usang yang terbuat dari papan bekas hamper terjatuh. Kulihat isi rumah
kami,ada dua bantal buluk tergeletak di sudut ruangan,Koran-koran bekas
berserakan di setiap sudut,bungkus nasi yang tadi pagi belum kami
buang,sebenarnya lebih tepat jika rumah ini disebut gubuk. Ya…Gubuk,”gubuk
derita” seperti lagu dangdut yang entah siapa penciptanya. Gubuk yang telah
memaksa ku berlari mengejar nyawa,Gubuk yang telah mengajariku arti “DUIT”,
Gubuk yang telah menempa ku menjadi makhluk paling keji di dunia. Tapi, dengan
gubuk inilah aku mengerti artinya Hidup,nafas, bahkan kebencian terhadap
kekayaan.
“Maria… ini
sudah satu tahun kita lewati,tak ingin kah kau berubah” Suara yang tak asing
lagi.
“Cukup
Di…!! Itu konyol,kita ini jahat..dan selamanya kita jahat”
“Tuhan Maha
Pengampun mar…”
“CUKUP!!”
aku membentaknya. Suara ku parau. Aku terduduk,kulihat Diah menyeka air dari
pelupuk matanya.
“Di…
waktu,dan keadaan yang memaksa ku. Tak taukah kau, keinginanku mencari duit
halal yang akhirnya menumbuhkan dendam pada ‘Beliau’…”aku sebut beliau untuk
orang kaya yang angkuh bahkan telah mencoreng ku dengan air dari mulut hinanya.
“Aku dendam
pada kemiskinan di… aku dendam dengan mereka yang telah membuat ku begini, Aku
dendam dengan orang kaya yang telah meludahiku, tanpa mereka menyadari ludah
mereka begitu hina,,menjijikkan di…Aku DENDAMMM!!!”air mata yang telah lama
kusimpan kini mengucur deras menjebol bendungan mata ku.Diah terduduk, seperti
tanpa komando ia pun menangis disampingku.
“Maria…ada
Tuhan yang selalu ada buat kita..bahkan Dialah yang telah memberi rezeki untuk
kita…Ayolah Maria,kita benahi diri ini” Diah mengulurkan sebuah kain yang baru
kutau itulah jilbab.Aku menggenggamnya dan pergi berlalu dari hadapannya.
Aku
kembali,masih kulihat Diah terduduk di tempatnya. Kulihat dia begitu letih,
Tapi masa bodoh aku juga tak bisa menopang tubuh letihnya,bahkan menopang
diri ini pun serasa tak sanggup.
Kuhamparkan sebuah Koran usang dan ku letakkan sejenak badan ini. Langit-langit
gubuk ini seakan tertawa melihat ku, mencemooh seperti babi-babi hutan yang sering
ku temui di tiap gedung mewah.
“Di…”ku panggil dia tanpa melepas pandangan ku pada langit-langit yang bercengkerama dengan ku.
“Di…”ku panggil dia tanpa melepas pandangan ku pada langit-langit yang bercengkerama dengan ku.
“Tuhan
dimana Di…?”aku lanjutkan pertanyaanku.
“Allah itu
disini..”Diah menunjuk pada hatinya. Aku mengernyitkan dahi ku. Seakan tau
kebingunganku, ia pun melanjutkan jawabannya.
“ALLAH
itulah yang menciptakan kita mar..Allah lah yang telah menciptakan semuanya
mar..dan Allah lah yang mengkomando kita Mar..Allah itu maha melihat
Mar,dimanapun kamu berada pasti Dia melihat..”jawabnya panjang lebar.
“dari mana
kau tau Di..?”aku heran dari mana ia dapatkan kata-kata itu.
“Selama ini
aku selalu mengikuti perkumpulan muslim yang membenahi akhlak mar..”jawabnya
lagi sambil mengikat rambut nya yang lumayan gimbal.
“Apakah
Allah itu Maha menolong hambaNya?”Tanya ku lagi.
“Tepat
mar..salah satu sifatNya juga Maha menolong”ia menjentikkan jarinya
kehadapanku.
“Kamu
bohong Di…”jawabku singkat. Tapi kini ia mengernyitkan dahinya.
“Ya..kamu
bohong pada ku Di..kalau memang Allah itu Maha melihat dan menolong hambaNya,
buktinya Dia telah membiarkan Ibu ku di perkosa dan di bunuh oleh para ‘beliau’
rekan bisnis ayah ku.. Dia juga telah membiarkan anak-anak terlantar, dan
kemiskinan merajalela, sedangkan penguasanya orang-orang jahat…Dia juga telah
membiarkan aku seperti ini..”ucap ku panjang lebar. Sedangkan Diah hanya
melongo mungkin tak menyangka aku bakl berucap demikian.
“kalau memang Maha melihat dan menolong seharusnya Dia menumpas semua orang jahat …seperti superman,atau spiderman”jawabku menambahkan.
“kalau memang Maha melihat dan menolong seharusnya Dia menumpas semua orang jahat …seperti superman,atau spiderman”jawabku menambahkan.
“Berarti
Dia juga menumpas kita Mar…?”kini diah yang balik Tanya.
“ahh kamuu…kita memang jahat,tapi terpaksa…hahahah”Aku bangun dan menepuknya. Ku pakai jilbab yang Diah beri tadi pada ku.
“Cantik tidak…?”aku bertanya padanya. Dia mengangguk..dan kami pun tertawa bareng.
“ahh kamuu…kita memang jahat,tapi terpaksa…hahahah”Aku bangun dan menepuknya. Ku pakai jilbab yang Diah beri tadi pada ku.
“Cantik tidak…?”aku bertanya padanya. Dia mengangguk..dan kami pun tertawa bareng.
“Eitttsss…
jangan lupa,ajak aku pada ustadzah mu itu…” aku tersnyum manis padanya,senyuman
manis yang belum aku berikan pada siapa pun..
“Ya Allah
Tuhan ku,, Aku datang pada Mu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar